Wilujeng Sumping di Web Resmi Desa Cigentur :www.cigentur.desa.id

Bersama membangun desa,menciptakan tata kelola pemerintahan desa yang bersih,transparan,akuntabel dan partisipatif menuju desa membangun,mandiri dan berbudaya.

Lembur urang,,,Kampung urang,,,, Desa urang,,,,rek kusaha lamun teu dimumule ku urang...Hayu urang sasarengan,,Sauyunan tur Sabilulungan. Jaga, Riksa, Piara, sangkan genah merenah tur tumaninah...!!!

Ini contoh teks berjalan. Isi dengan tulisan yang menampilkan suatu ciri atau kegiatan penting di desa anda.

 

Sejarah Desa

Nurdin Hidayatulloh El-Ghifari 26 Agustus 2016 15:38:09

  1.  Sejarah dan Asal Usul Desa, Cerita Rakyat

Desa Cigentur termasuk daerah yang berada dilingkungan wilayah priangan Bandung Selatan. Itulah sebabnya bahasa sehari-hari yang dugunakan adalah bahasa sunda sebagai bahasa ibunya. Cigentur adalah sebuah nama salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Paseh. Menurut salah cerita seorang tokoh masyarakat (H. Acep Solihin. Alm) berdasarkan cerita rakyat tempo dulu kata Cigentur diambil dari kata cai dan guntur ngengingat di Desa Cigentur terdapat sungai yang deras bergemuruh mengalir dan memisahkan dua wilayah antara Desa Cigentur Kec. Paseh dan Desa Srirahayu Kecamatan Cikancung. Karena derasnya aliran sungai tersebut sehingga bisa mengairi persawahan masyarakat sekitar disamping digunakan untuk keperluan sehari-hari masyarakat lainnya. Maka diambilah kata Cai dan Guntur tersebut menjadi nama desa yaitu CIGENTUR hingga saat ini.

 

Desa Cigentur awal mula berdiri dan terbentuk pada tahun 1904 yang dijabat oleh H. Abdulah sebagai kepala Desa pertama beliau merupakan kalangan terpandang dan mempunyai pengaruh yang cukup disegani oleh masyarakat, beliau menjabat selama + 10 yang pada waktu itu masih dalam kondisi masa penjajahan.

Silsilah Kepala Desa Cigentur

Dari Masa Ke Masa

No

Nama

Masa Jabatan

1.

H. ABDULLAH

1904 – 1914

2.

MARTA H. AMIR

1914 – 1917

3.

MARTA

1917 – 1921

4.

H. SOLEH

1921 – 1925

5.

KARTA H. JUHANA

1925 – 1930

6.

AHYA ADIWISASTRA

1930 – 1942

7.

H. JUNAEDI

1942 – 1945

8.

ADROMI H. HUDORI

1945 – 1946

9.

KARNA WINATA

1946 – 1956

10.

M. DANTA

1956 – 1979

11.

RUKMAN

1980 – 1984

12.

USMEN

1984 – 1986

13.

H. TJETJEP SAEPUDIN

1986 – 2002

14.

ADANG H. AJIJI

2002 – 2007

15.

H. HIDAYAT

2007 - 2013

Desa Cigentur secara geografis pada pada jaman dulu merupakan wilayah kesatuan yang sangat luas yang mencakup wilayah Cigentur dan Karungtunggal yang secara adat dan budayanya mempunyai kesamaan, pada tahun +1981 terjadi pemekaran wilayah desa yang memisahkan antara Desa Cigentur dan Karungtunggal maka hingga saat ini kedua wilayah tersebut merupakan dua pemerintahan yang berbeda.

  1. 1.      Tempat-tempat Bersejarah/Situs Budaya

Menurut cerita jaman dulu di Desa Cigentur terdapat salah satu wilayah tanah tegal yang dinamakan Cilongok konon menurut tokoh masyarakat disebut kata Colongok dikarenakan tempat tersebut merupakan tempat untuk adu kekuatan para  jawara persilatan yang datang dari berbagai perguruan silat untuk menguji kekuatannya. Sehingga masyarakat pada waktu itu antusias sekali menyaksikan adu kekuatan para jawara tersebut, sehingga dikenal dengan nama cilongok dari kata ngalongok (menyaksikan).

Karena kuatnya ilmu yang dimiliki oleh para jawara pada saat itu sampai tidak ada yang kalah sehingga kegiatan adu kekuatan dilaksanakan sampai sehari penuh yang akhirnya semakin mengundang antusiasnya masyarakat untuk menyaksikan adu kekuatan tersebut sampai-sampai panitia pada waktu itu menghawatirkan akan berdampak pada keributan maka akhirnya untuk mencegah yang tidak diinginkan para penonton diusur digiring kesalah satu tempat supaya tidak risih (ribut) maka terkenalah salah satu kampung di Desa Cigentur yaitu kampung Sukarisih.

ADAT ISTIADAT DESA

 

  1. 1.      Adat yang berkaitan dengan siklus hidup (kelahiran, sunatan, pernikahan dan kematian)

 

Kelahiran

 

Dalam adat kelahiran di Desa Cigentur pada jaman dahulu pernah dikenal jika ada yang melahirkan ditangani oleh paraji dan jika bayi sudah mencapai 40 hari maka diadakan selamatan dengan istilah mahinum yaitu masak sayur daun bolang (talas) dicampur daging, kacang tanah dan kacang merah lalu dibagikan kepada para tetangga sekitar yang tujuannya pada waktu itu sebagai rasa syukur dan pemberitahuan kepada masyarakat bahwa telah dilahirkan bayi dengan selamat.

Namun untuk waktu sekarang kegiatan tersebut sudah tidak ada tetapi kegiatan syukuran aqiqah tujuh hari atau sepuluh hari tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya bagi yang mampu melaklasanakannya hal ini dilaksanakan sebagai rasa syukur atas karunia pemberian anak dan sebagai bentuk pengabdian terhadap Allah SWT. dan sebagai tuntunan ajaran Agama Islam yang dianut masyarakat Desa Cigentur.

 

Sunatan

Jika ada anak yang akan disunat pada jaman dulu sebelum disunat oleh paraji sunat anak tersebut di lulur dengan bedak terlebih dahulu sekujur tubuh kecuali muka oleh paraji sunat, lalu besok harinya anak tersebut dimandikan oleh paraji sunat di kandang lisung disaksikan oleh masyarakat sambil menabuh tetabuhan kendang dan lisung sebagai bentuk suka ria, besok harinya maka dilaksanakanlah khitanan anak oleh paraji sunat.

Namun untuk kekinian acara seremonial budaya seperti itu sudah tidak ada lagi bagi anak yang akan disunat, untuk sekarang jika anak akan disunat terlebih dahulu dipotong rambutnya lalu didandani dengan pakaian bagus dimaksudkan sianak supaya tampan,rapih dan berwibawa dan sunatan dilasanakan oleh dokter sunat.

Adapun bentuk budaya sebagai rasa syukur sunatan anak sebagian masyarakat mengadakan kesenian kuda renggong dan pawai keretek (delman) yang di arak mengelilingi desa dengan iringan tetabuhan dan lantunan lagu-lagu.

 

Pernikahan

Konon pada acara pernikahan pada jaman dulu di Desa Cigentur sebelum dilangsungkan acara pernikahan sebelumnya dilaksanakan acara ngeyeuk seureuh yaitu sesajian berupa padi, jambe, ranginang, opak, ali, wajit (makanan Ringan Tradisional) dll. disimpan di dalam nyiru yang ditutupi oleh kain yang selanjutnya oleh calon pengantin laki-laki dan perempuan diharuskan mengambil salah satu benda yang ada di dalam nyiru tersebut yang dimaksudkan jika mengambil salah satu benda di dalam tersebut adalah padi maka calon pengantin tersebut rizkinya berlimpah atau jika kedua calon pengantin tersebut mengambil jambe maka rijkinya kurang bagus.

Adapun acara seremonial seperti itu pada waktu sekarang sudah tidak ada lagi namun acara-acara seperti kebudayaan tradisional tempo dulu seperti saweran, nincak endok, mandi air tujuh rupa kembang, mapag calon pengantin laki-laki, dll masih ada sebagian masyarakat yang melaksanakannya.

  1. Adat Sopan Santun

Adat sopan santun budaya sunda masih melekat di masyarakat meskipun perubahan perlahan mulai terlihat dan terasa seperti rasa hormat anak kecil kepada yang besar dengan bahasa yang sepadan, jika lewat didepan orang atau masuk rumah mengucapkan kata punten, rasa hormat murid kepada guru, masyarakat kepada lurah, anak-anak kepada orang tua dan sebagainya. Adat sopan santun seperti itu masih melekat dimasyarakat meskipun perubahan yang diakibatkan oleh budaya luar tidak bisa dibendung lagi namun ciri khas bidaya sunda masih melekat dimasyarakat.

  1. Adat Pergaulan (muda mudi)

Pergaulan pada jaman dulu tentunya sangat dibatasi dengan norma dan aturan dimana pergaulan antara pemuda dan pemudi tidak boleh bebas saling bercengkrama seperti halnya pemudi dilarang keluar rumah dan bekerja kecuali untuk mengaji dan mencuci ini dimaksudkan untuk menjaga jati diri dan kehormatan keluarga.

Berbalik seratus persen untuk saat ini pergauluan bebas pemuda pemudi tak kenal batas untuk bergaul tidak ada jarak antara mereka, namun tidak semuanya seperti ada sebagian masyarakat tetap mempertahankan tradisi dan budaya dengan melarang anak-anaknya bergaul dengan bebas, keluar malam seenaknya.

Bagi masyarakat yang mengerti dan mempunyai tanggungjawab terhadap anaknya sebagai antisipasi agar pemuda pemudi tidak terjerumus pada pergaulan bebas mereka arahkan dengan menyuruhnya untuk aktif di kegiatan-kegiatan positif seperti perkumpulan remaja, Karang Taruna, Remaja Masjid dan kegiatan positif lainnya yang ada dilingkungan Desa.

  1. Adat yang berkaiatan dengan pengelolaan sumber daya alam

Adat yang masih melekat dimasyarakat antara lain:

Dengan tidak membuang sampah ke sungai atau selokan agar tidak banjir

Menanam pepohonan di pinggir sungai agar tidak terjadi erosi

  1. Tabu atau Pantangan

Pada jama dahulu ada Pantangan untuk para pemuda dan pemudi dilarang keluar rumah pada waktu ba’da magrib kecuali ke masjid dan pengajian. Konon menurut mereka jika keluar pada waktu ba’da magrib akan hilang diculik sanekala dan cerita ini diperkuat dengan banyak kejadian yang hilang entah kemana dan tidak ditemukan rimbanya.

 

 

 

 

Jangan duduk di pintu masuk bilih nongtot jodo

Bagi yang hamil jangan makan kulit supaya tidak sakit kulit waktu melahirkan

Ibu hamil jangan melilitkan handuk di leher agar ari-ari tidak melilit leher bayi.

Ulah pereum sareupna bisi gelo

Ulah lalangiran bisi paeh indung, dll

  1. Petatah petitih/pantun

Tidak ada bukti yang pasti atau riil tentang petatah petitih/pantun yang berkembang yang menjadi ciri khas di Desa Cigentur.

  1. Upacara/Ritual

Upacara/Ritual tentunya berhungan dengan acara kebudayaan atau acara-acara kegiatan besar keagamaan, salah satu kegiatan masyarakat di Desa Cigentur seringkali setiap setahun sekali melaksanakan kegiatan upacara peringatan Tahun Baru Islam dengan mengadakan pawai obor yang diikuti oleh anak-anak, remaja dan orang tua yang ikut berpartisipasi meramaikan kegiatan tersebut.

  1. Permainan Tradisional

Bagi anak-anak pada jaman dulu yang menjadi permainan kesukaan adalah perang-perangan dan kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah daun pisang yang dibentuk pistol atau kuda-kudaan yang diberi tali pengait, jajangkungan, ucing-ucingan dan jejengkean. Benjang,

Namun pada saat sekarang ini permainan tradisional tersebut sudah jarang dijumpai hanya perminan-perminan seperti ucing sumput, sondah, bebedilan yang masih bisa dilihat dimainkan anak-anak sekarang.

  1. Pakaian Adat

Orang tua dulu jika akan berangkat ke sawah sering memakai pakaian pangsi atau kampret yaitu pakaian khas sunda dengan menyelendangkan sarung di pundak dan cetok dikepala. Sedangkan bagi ibu-ibunya untuk menutupi kepala dari terik panas matahari dengan cara melilitkan sarung kebat dikepala berbentuk melingkar dan menjumbaikan ujung sarung kebelakang.

Penutup kepala dengan sarung kebat bagi perempuan pada saat ini masih menggunakannya jika hendak ke sawah sebagai alat untuk menutup kepala sedangkan bagi laki-laki pakaian seperti itu sudah jarang dijumpai untuk saat ini.

  1. Rumah Adat

Yang menjadi ciri khas rumah orang sunda adalah rumah panggung yang sampai pada saat ini masih ada yang memilikinya

  1. Makanan Khas Tradisonal

Ranginang, opak, angleng, ali, wajit, awug, peyeum

  1. Obat Tradisional

Pada jaman dulu orang tua kalau luka dibalur dengan apu dan babadotan dan pada saat ini juga masih masih digunakan sebagai obat alternatip masyarakat.

Demikian selanyang pandang atau sejarah singkat Desa Cigentur yang dapat kami sampaikan kepada para pegiat Medsos, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua, terima kasih.

 

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN anda.

Masukan NIK dan PIN

Aparatur Desa

Kepala Desa Sekretaris Desa BENDAHARA Kaur Keuangan Kasi Kesejahteraan Kasi  Pemerintahan Kaur  Perencanaan Program Kasi Pelayanan KAUR UMUM Kepala Dusun I Kepala Dusun II Kepala Dusun III Kepala Dusun IV

Sinergi Program

Bimas Islam
KEMENDES PROVINSI JAWA BARAT KAB. BANDUNG
 POKJANAL POSYANDU   KABUPATEN BANDUNG
PEMERINTAH KECAMATAN PASEH
DESA CIGENTUR Jendela Desa Facebook
Telegram pak kades instagram
info
Cek BPJS Online bpjs ketenaga kerjaan E-LAPOR
bumdes SETORAN PAJAK ONLINE

Komentar Terkini

Info Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlusYouTubeInstagramInstagram

Lokasi Kantor Desa

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung